PROLIFIK - BMKG mencatat gempa bermagnitudo 3,5 pada Sabtu, 31 Oktober 2026 pukul 16.23 WITA (15.23 WIB). Pusat gempa berada di laut, sekitar 13 kilometer tenggara Bahodopi, pada koordinat 2,87° LS–122,21° BT dengan kedalaman dangkal sekitar 4 kilometer. Getaran dirasakan ringan oleh warga di sekitar Morowali, pada skala II–III MMI — artinya hanya dirasakan sebagian orang dan tidak menimbulkan kerusakan.

Meski kecil, kejadian ini kembali mengingatkan bahwa wilayah pesisir timur Morowali, khususnya sekitar Bahodopi dan Teluk Tolo, memang berada di jalur aktif kegempaan. Bukan kejadian yang perlu ditakuti, tapi juga bukan hal yang baru.

Mengapa Wilayah Ini Sering Bergetar

Secara geologis, Sulawesi termasuk salah satu kawasan dengan struktur sesar aktif terbanyak di Indonesia. Di sisi timur Morowali, sumber gempa yang paling berperan adalah Sesar Matano — jalur sesar sepanjang sekitar 200 kilometer yang membentang dari Danau Matano hingga ke Teluk Tolo, tepat di lepas pantai Bahodopi.

Para peneliti geofisika mencatat bahwa Sesar Matano tergolong aktif dengan pergerakan rata-rata beberapa milimeter per tahun. Aktivitas semacam ini wajar terjadi di sepanjang jalur sesar: energi yang terkumpul secara perlahan dilepaskan dalam bentuk getaran, dan sebagian besar berukuran kecil seperti kejadian pekan ini.

Wilayah Bahodopi memang cukup sering mencatat gempa kecil hingga menengah dalam beberapa tahun terakhir, sebagian berpusat di laut Teluk Tolo pada kedalaman dangkal. Pola ini konsisten dengan karakter sesar yang melintasi dasar laut di sekitar kawasan tersebut.

Belajar dari Kejadian Sebelumnya

Morowali pernah mengalami gempa yang lebih besar, termasuk gempa magnitudo 6,9 pada April 2019 yang berpusat di Teluk Tolo dan sempat memicu peringatan dini tsunami status waspada untuk wilayah pesisir — meski kemudian dinyatakan berakhir tanpa dampak signifikan. Ada pula rangkaian gempa magnitudo 3,4 hingga 4,9 yang pernah dirasakan warga Bahodopi dalam rentang waktu singkat.

Catatan ini bukan untuk menakuti, melainkan untuk menunjukkan bahwa gempa-gempa kecil seperti yang terjadi pekan ini adalah bagian normal dari dinamika alam di wilayah pesisir Morowali. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berulang kali menegaskan bahwa potensi gempa di suatu daerah perlu disampaikan sesuai fakta, tanpa perlu menimbulkan kekhawatiran berlebihan di masyarakat.

Langkah Sederhana yang Bisa Disiapkan Warga

Kesiapsiagaan tidak memerlukan kepanikan, cukup kebiasaan kecil yang membuat warga lebih siap bila suatu saat gempa yang dirasakan lebih kuat:

  • Kenali jalur evakuasi ke tempat yang lebih tinggi bila berada di dekat pantai, terutama bila getaran dirasakan cukup kuat dan berlangsung lama.
  • Pastikan furnitur berat dan rak di rumah atau tempat usaha tertata dengan aman agar tidak mudah roboh.
  • Simpan nomor kontak BPBD setempat dan pantau informasi resmi dari BMKG melalui aplikasi atau akun resminya, bukan dari pesan berantai yang belum terverifikasi.
  • Bila merasakan getaran kuat di dekat pantai, segera menjauh ke tempat yang lebih tinggi tanpa menunggu peringatan resmi — gempa dari sumber yang dekat seperti Teluk Tolo bisa memicu tsunami lokal dalam waktu sangat singkat.

Gempa magnitudo 3,5 ini tidak berpotensi tsunami dan tidak menimbulkan kerusakan. Warga diimbau tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, sambil menjaga kewaspadaan yang wajar mengingat posisi Morowali yang berada di wilayah dengan aktivitas sesar aktif.