PROLIFIK.ID - Bahlil Lahadalia melempar wacana yang cukup berani pekan ini. Usai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Rabu (21/10/2026), Menteri ESDM yang juga menjabat Menko Hilirisasi dan Transisi Energi itu mengatakan pemerintah mungkin saja tidak memperpanjang kontrak ekspor gas ke negara tetangga. Alasannya sederhana: Indonesia sedang "mode survival" dan kebutuhan dalam negeri harus didahulukan.
Peringatan ke Negara Tetangga
Ketua Umum Golkar ini tidak menyebut negara mana yang ia maksud. Tapi nada bicaranya cukup tegas, hampir seperti peringatan: kalau ada negara lain yang punya pandangan berbeda soal arah kebijakan energi Indonesia, sebaiknya mereka berhati-hati. Baginya, logikanya sederhana, dapur sendiri harus terisi dulu sebelum mikirin kebutuhan tetangga.
Hanya saja, sejauh ini pernyataan Bahlil baru sebatas membuka opsi. Belum ada keputusan resmi, belum ada kontrak spesifik yang disebut bakal dihentikan, dan belum ada tenggat waktu kapan hal itu akan terjadi.
Sebenarnya Porsi Ekspor Sudah Kecil
Yang menarik, data Kementerian ESDM sendiri menunjukkan bahwa gas yang diekspor sebenarnya sudah jauh lebih sedikit dibanding yang dipakai di dalam negeri. Sepanjang semester I 2026, 74,55 persen gas bumi Indonesia habis untuk domestik, sisanya, 25,39 persen, baru dikirim ke luar. Jadi wacana Bahlil ini bukan soal gas domestik yang kekurangan, melainkan lebih ke sikap: pemerintah mau makin pelit soal alokasi ekspor ke depan.
Ada Kontrak yang Sudah Jalan Sampai 2028
Salah satu pembeli gas Indonesia yang namanya cukup dikenal adalah Gas Supply Pte Ltd (GSPL). Data SKK Migas mencatat kontraknya sudah diperpanjang sampai 2028, dengan volume 160 BBTUD pada 2023 lalu naik jadi 180 BBTUD untuk periode 2024-2028. Padahal selama ini Bahlil justru berulang kali meyakinkan bahwa kontrak-kontrak ekspor dengan KKKS akan dihormati dan kuotanya tidak akan dipangkas. Makanya pernyataannya kali ini terasa agak berbeda arah, dari menjaga komitmen kontrak, sekarang mulai membuka opsi untuk tidak memperpanjangnya.
Mau dibawa ke mana wacana ini masih jadi tanda tanya. Yang pasti, dari nada bicara Bahlil, publik sepertinya bakal makin sering mendengar istilah "survival" dipakai untuk menjelaskan kenapa gas yang biasanya mengalir ke luar negeri, bisa saja ditahan dulu untuk kebutuhan sendiri.
Komentar 0
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi berita ini.
Tulis komentar