PROLIDIK.ID - Pernah nggak sih kamu ketemu seseorang yang di awal-awal hubungan super manis? Tiap hari dikasih hadiah, dipuji terus, chatnya intens, selalu ada buat kamu. Rasanya kayak di film romantis. Tapi lama-lama kok malah bikin sesak? Hati-hati, bisa jadi itu Love Bombing.
Love bombing bukan soal cinta tulus,tapi taktik manipulatif. Seseorang sengaja memberikan pujian, perhatian berlebihan, dan kasih sayang yang meledak-ledak di awal untuk memenangkan hati, lalu perlahan mengendalikan kamu.
Awalnya memang menyenangkan, tapi pada dasarnya ini adalah bentuk kontrol psikologis yang bisa sangat merugikan.

3 Tanda Kamu Sedang Mengalami Love Bombing

1. Terlalu Cepat, Terlalu Banyak

Baru kenal seminggu tapi sudah bilang "kamu dunia aku", kirim bunga mahal tiap hari, dan menuntut balasan chat dalam hitungan menit.

2. Pujian yang Tidak Realistis

Memuji terus-menerus bahkan untuk hal kecil, membuat kamu merasa spesial banget sampai merasa tidak enak kalau menolak permintaannya.

3. Marah Saat Kamu Pasang Batasan

Ini kuncinya. Saat kamu minta ruang untuk diri sendiri, dia langsung marah, menyalahkan, dan bilang kamu tidak peduli. Kasih sayangnya jadi bersyarat.

Kisah Lisa dan Doni bisa menjadi salah satu contohnya yang Manis di Awal, Sesak di Akhir, dimana Lisa baru saja bertemu Doni. Doni tampan, mengagumkan, dan langsung menunjukkan minat yang sangat kuat. Doni memberi hadiah mahal, memuji penampilan Lisa, dan selalu siap mendengarkan ceritanya. Awalnya Lisa bahagia dan terpesona.
Tapi lama-lama hubungan jadi tidak seimbang. Doni terus-menerus menginginkan perhatian Lisa, mengharapkannya selalu ada kapan pun dia butuh, dan menuntut semua keinginannya dipenuhi.Ketika Lisa mencoba menetapkan batas dan meminta sedikit ruang, Doni marah dan menyalahkannya karena dianggap tidak peduli.  Saat itulah Lisa sadar,  ini bukan cinta, ini love bombing. Pujian dan kasih sayang dipakai Doni sebagai alat untuk memanipulasi.

Lalu, Apa yang harus Dilakukan? Jika kamu merasa mengalaminya atau melihat temanmu jadi korban, lakukan ini:

1. Sadari Polanya. Kenali bahwa perhatian berlebihan yang konstan dan tuntutan perhatian yang tidak seimbang itu tidak sehat.

2. Tetapkan Batasan yang Jelas. Berani bilang "tidak". Hubungan yang sehat menghargai ruang pribadi. Jangan ragu menerapkan batasan saat kamu merasa tidak nyaman atau tertekan.

3. Percayai Instingmu. Jika ada sesuatu yang terasa tidak benar, biasanya memang tidak benar. Jangan abaikan rasa tidak nyaman itu.

4. Cari Dukungan. Jangan hadapi sendirian. Cerita ke teman, keluarga, atau profesional kesehatan mental. Kamu butuh sudut pandang orang luar untuk melihat pola ini dengan jernih.

Love bombing bisa meninggalkan dampak jangka panjang pada kesehatan emosional. Kamu bisa jadi cemas, kehilangan kepercayaan diri, dan merasa bersalah terus-menerus.Ingat, cinta yang sehat itu tenang, konsisten, dan memberi ruang untuk bertumbuh. Bukan cinta yang meledak-ledak di awal lalu mengontrol di akhir. Cinta seharusnya tidak membuatmu merasa harus memberikan segalanya dengan mengabaikan kebutuhanmu sendiri.***

(Artikel ini terinspirasi dari buku Dark Psychology karya Novita WD, Penerbit Jendela Tahun 2023. Beberapa poin telah dikembangkan penulis dengan studi kasus dan bahasa yang disesuaikan untuk pembaca Prolifik.id.)