PROLIFIK.ID - Sedikit demi sedikit, tanpa sadar kita sudah hidup di dalam media sosial. Pagi buka Facebook untuk update status, siang cek story Instagram, sore mengeluh di Twitter (X), malam joget-joget di TikTok.
Awalnya, media sosial diciptakan untuk hal yang sederhana, menjaga silaturahmi, berbagi kabar, dan menyambung kembali hubungan dengan teman lama atau keluarga yang jauh.Tapi sekarang fungsinya bergeser.
Media sosial berubah menjadi etalase kehidupan. Anak juara 1 di sekolah, orang tua langsung upload di Facebook. Liburan ke Lombok, langsung upload deretan titik-titik Instagram Story seperti semut yang tak ada habisnya.
Pesanan di restoran salah sedikit, langsung curhat panjang di Twitter. Lihat barang lucu, langsung checkout di TikTok Shop. Bahkan kegiatan bangun tidur sampai tidur lagi pun di-upload ke YouTube.
Kalau kita hidup 24 jam tujuh hari, terpaku pada apa yang orang lain tampilkan, kita akan terjebak. Kita akan berpikir dunia maya adalah satu-satunya realita. Padahal orang lain tidak akan pernah berhenti untuk memamerkan, mengeluh, memotivasi, berjualan, dan menghibur lewat konten mereka.
Di titik inilah masalah muncul. Bukannya terhibur, kita malah jadi kesal. Bukannya termotivasi, kita malah jadi iri. Anehnya, saat kita iri, kita bukannya menjauh, tapi justru semakin kepo. Akhirnya? Kita sakit hati sendiri. Dan ini tidak hanya terjadi di dunia maya.Di dunia nyata pun sama.
Tetangga beli mesin cuci baru, kita jadi ikut-ikutan beli, padahal masih pusing mikirin tagihan listrik. Di kantor, teman beli jam tangan mewah seharga motor. Di tongkrongan, ada teman yang pamer pacar baru, padahal baru minggu lalu curhat habis cerai.
Serangan flexing dan pamer ini datang dari segala arah. Jika kita tidak punya kekuatan batin yang kuat, kita tidak akan pernah merasakan tenang, apapun yang kita miliki. Di sinilah Stoikisme menjadi Penting.
Jika kita belajar dan menerapkan filosofi Stoikisme, segalanya akan berbeda. Stoikisme mengajarkan satu hal sederhana: Kita tidak bisa mengontrol apa yang orang lain lakukan, kita hanya bisa mengontrol respon kita.
Dengan pola pikir Stoik: anak tetangga berprestasi? Kita tidak iri, kita ikut memberi selamat dengan tulus. teman liburan ke luar pulau? Kita tidak nyinyir, kita berdoa semoga suatu hari kita juga bisa ke sana.
Ada masalah di restoran? Kita tidak langsung ngamuk di Twitter, tapi bicara baik-baik ke pelayannya agar masalah cepat selesai. Teman dapat barang murah di TikTok? Ya sudah, kita ikut cari, bukan ikut iri.
Dalam hidup sehari-hari, Stoikisme membuat kita lebih berempati. Setiap orang melakukan sesuatu pasti ada alasannya. Misalnya teman yang baru bercerai lalu langsung punya pasangan baru.
Daripada kita jadi netizen julid yang membicarakannya di belakang, seorang Stoik akan memilih untuk memahami, mungkin itu caranya untuk sembuh dan menghibur diri.
Lebih baik beri selamat dan doakan semoga kali ini bahagia. Pada akhirnya, Stoikisme bukan tentang menjadi cuek dan tidak peduli. Tapi tentang menyaring mana yang perlu kita masukkan ke hati, dan mana yang cukup kita lihat lalu biarkan lewat.
Di zaman modern yang berisik ini, kemampuan untuk tetap tenang adalah sebuah kemewahan. Dan Stoikisme adalah kuncinya. ***
Komentar 0
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi berita ini.
Tulis komentar