PROLIFIK.ID - Sejak kecil, kita diajarkan untuk berhati-hati terhadap orang asing. Jangan mudah percaya. Jangan terlalu terbuka. Jangan sembarangan membagikan cerita pribadi kepada orang yang belum dikenal.
Namun seiring bertambahnya usia, kita menyadari sebuah kenyataan yang cukup ironis, sebagian besar luka emosional yang paling membekas justru tidak datang dari orang asing. Luka itu datang dari orang yang pernah kita izinkan masuk ke dalam kehidupan kita.
Dari orang tua yang mengetahui ketakutan kita sejak kecil.Dari pasangan yang mengenal semua rasa tidak aman yang tidak pernah kita tunjukkan kepada siapa pun. Atau dari sahabat yang selama bertahun-tahun menjadi tempat kita berbagi cerita tanpa batas.
Fenomena ini mengundang sebuah pertanyaan yang mungkin pernah terlintas di benak banyak orang, mengapa orang yang paling dekat justru sering menjadi orang yang paling tahu cara menyakiti kita?
Fenomena ini dijelaskan dalam Betrayal Trauma Theory yang diperkenalkan psikolog Jennifer Freyd. Menurut teori tersebut, pengkhianatan yang dilakukan oleh orang yang selama ini menjadi sumber keamanan dan dukungan cenderung menimbulkan dampak psikologis yang lebih besar dibandingkan perlakuan serupa dari orang yang tidak memiliki hubungan dekat dengan kita (Freyd, 1996).
Kedekatan Selalu Membutuhkan Kerentanan
Dalam setiap hubungan yang bermakna, ada satu hal yang hampir tidak bisa dihindari, keterbukaan.
Saat hubungan berkembang, kita mulai membagikan hal-hal yang tidak diketahui orang lain. Kita menceritakan kegagalan yang pernah membuat kita malu, pengalaman yang meninggalkan luka, hingga ketakutan yang selama ini kita simpan rapat-rapat.
Tanpa disadari, proses itu membuat orang lain mengenal kita lebih dalam daripada kebanyakan orang.
Mereka tahu apa yang membuat kita sensitif. Mereka tahu apa yang membuat kita merasa tidak cukup baik. Mereka tahu pengalaman mana yang masih menyisakan bekas hingga hari ini.
Semua informasi itu pada dasarnya merupakan bentuk kepercayaan. Kita membagikannya dengan keyakinan bahwa orang tersebut akan memahami dan menjaga, bukan memanfaatkannya.
Mengapa Luka dari Orang Terdekat Terasa Lebih Dalam?
Bayangkan seseorang yang tidak Anda kenal mengkritik penampilan Anda. Mungkin Anda merasa kesal, tetapi perasaan itu biasanya berlalu. Sekarang bayangkan komentar yang sama datang dari seseorang yang Anda cintai dan percayai.
Dampaknya bisa sangat berbeda. Alasannya bukan semata-mata karena isi perkataannya, melainkan karena siapa yang mengatakannya.
Ketika orang yang dekat dengan kita menyampaikan sesuatu yang menyakitkan, kita tidak hanya mendengar kata-katanya. Kita juga membawa seluruh sejarah hubungan bersama orang tersebut. Ada kepercayaan, harapan, dan rasa aman yang selama ini melekat pada hubungan itu.
Karena itulah satu kalimat dari orang yang kita cintai kadang terasa lebih berat daripada puluhan komentar dari orang lain.
Saat Pengetahuan Menjadi Senjata
Yang membuat situasi ini rumit adalah kenyataan bahwa kemampuan seseorang untuk memahami kita dan kemampuan seseorang untuk menyakiti kita sering kali berasal dari sumber yang sama.
Orang yang mengetahui kecemasan kita juga mengetahui cara memicunya. Orang yang memahami rasa tidak aman kita juga mengetahui titik mana yang paling menyakitkan untuk disentuh.
Dalam konflik, tidak jarang pengetahuan tersebut digunakan secara sadar maupun tidak sadar sebagai alat untuk menyerang. Trauma lama diungkit kembali, kelemahan dijadikan bahan sindiran, atau rahasia pribadi digunakan untuk memenangkan pertengkaran.
Sering kali tindakan itu terjadi dalam momen kemarahan. Namun bagi pihak yang menerima, luka yang ditimbulkan tidak selalu berakhir ketika kemarahan tersebut mereda.
Bukan Soal Kebencian, Melainkan Akses
Ada anggapan bahwa orang yang menyakiti kita pasti membenci kita. Dalam banyak kasus, kenyataannya tidak sesederhana itu. Justru karena seseorang dekat dengan kita, ia memiliki akses terhadap sisi-sisi diri yang tidak terlihat oleh orang lain.
Seorang asing mungkin ingin menyakiti kita, tetapi ia tidak tahu harus mulai dari mana. Sementara orang yang dekat sudah mengenal peta emosi kita dengan sangat baik.
Itulah sebabnya kedekatan selalu mengandung paradoks. Kedekatan memberi kita kenyamanan, dukungan, dan rasa dimengerti. Namun pada saat yang sama, kedekatan juga menciptakan kerentanan yang tidak pernah dimiliki hubungan yang dangkal.
Menjadi Orang yang Aman
Mungkin pelajaran terpenting dari fenomena ini adalah bahwa kepercayaan selalu datang bersama tanggung jawab.
Semakin banyak seseorang mempercayakan dirinya kepada kita, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk menjaga kerentanan tersebut.
Pada akhirnya, kualitas sebuah hubungan tidak ditentukan oleh seberapa banyak rahasia yang kita ketahui tentang seseorang. Kualitas hubungan justru terlihat dari bagaimana kita memperlakukan rahasia itu ketika hubungan sedang mengalami konflik, kekecewaan, atau kemarahan.
Karena menjadi dekat dengan seseorang bukan sekadar diberi akses ke dalam hidupnya. Menjadi dekat berarti dipercaya untuk menjaga bagian-bagian dirinya yang paling rapuh.
Dan mungkin, ukuran kedewasaan emosional yang sesungguhnya adalah ketika kita mengetahui dengan tepat cara menyakiti seseorang, tetapi memilih untuk tidak pernah melakukannya. ***
Komentar 0
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi berita ini.
Tulis komentar